(tugas mata kuliah KMB1 oleh: Rokhimatul Inayah NIM: 08060096)

I. KASUS

Seorang An. A usia 10 tahun, datang ke RSU dengan keluhan sakit pada saat menelan dan nyeri pada tenggorokan. Ibu mengatakan An. A tidak nafsu makan sejak 1 minggu yang lalu  disertai dengan demam, dan demam tidak kunjung turun malahan terus meninggi sepanjang hari meskipun sudah di obati dengan obat yang di beli di warung hingga menimbulkan kejang pada An. A dan sebelumnya tidak ada batuk pilek yang menyertai An. A tersebut. An. A juga menderita nyeri pada kepala, sendi-sendi dan telinga.

An. A terlihat lesu dan pulmy voice serta mulut berbau tidak enak. Riwayat penyakit dahulu, terdapat riwayat sakit serupa dan kumat-kumatan, tidak ada sakit yang serupa pada keluarga. Ibu An. A juga mengatakan anaknya mengalami hal yang serupa sudah 6 kali dalam setahun ini. Pemeriksaan fisik di temukan tanda vital suhu 380C. pemeriksaan teggorokan di temukan tonsil hiperemi dan detritus serta pembesaran tonsila palatine dekstra dan sinistra. Dilakukan pemeriksaan penunjang berupa laboratorium darah lengkap dengan hasil peningkatan leukosit dan LED serta penurunan hemoglobin. Pemeriksaan status lokalis telinga dan hidung dalam batas normal.

II. PENATALAKSANAAN PADA TONSILITIS

Secara umum, penatalaksanaan tonsillitis menurut Firman S, 2006:

1.      Jika penyebabnya bakteri, di berikan antibiotic peroral selama 10 hari, jika menglami kesulitan menelan, bisa di berikan dalam bentuk suntikan.

2.      Pengangkatan tonsil (tonsilektomi) dilakukan jika :

a.       Tonsillitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih/tahun

b.      Tonsillitis terjadi 5 kali atau lebih/tahun dalam kurun waktu 2 tahun

c.       Tonsillitis terjadi 3 kali atau lebih/tahun dalam kurun waktu 3 tahun

d.      Tonsillitis tidak memberikan respon terhadap antibiotic

Menurut Mansjoer, A (1999), penatalaksanaan tonsillitis adalah :

1.      Tosilitis akut

a.       Pemberian antibiotic golongan penicillin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur atau obat hisap dengan disenfektan, bila alergi dengan di berikan eritromisin atau klindomisin.

b.      Antibiotic yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder, kortikosteroid untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik

c.       Pasien diisolasi karena menular, tirah baring, untuk menghindari komplikasi kantung selama 2 – 3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorok 3x negative

d.      Pemberian antiseptic

2.      Tonsillitis kronik

a.       Terapi local untuk hygiene mulut dengan obat kumur/hisap

b.      Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konsernatif tidak berhasil.

Dalam kasus di atas, An. A mengalami tonsillitis kronis, di tandai dari riwayat terdahulu bahwa An. A mengalami sakit yang serupa dan kumat-kumatan, jadi pada kasus An. A dilakukan terapi local untuk hygiene mulut dengan obat kumur/hisap dan perencanaan operasi tonsilektomi serta dilanjutkan pemberian antibiotic amoksilin 500mg tiap 8 jam selama 5 hari sebagai obat untuk mengatasi penyebanya dn obat penurun panas sekaligus sebagai pereda nyeri yaitu paracetamol 500 mg tiap 8 jam di berikan selama panas dan nyeri masih ada.

Penatalaksanaan dalam melakukan tindakan tonsilektomi adalah :

1.      Perawatan pra bedah

–          Diberikan sedasi dan premedikasi

–          Anak harus dipuasakan

–          Membebaskan anak dari infeksi pernafasan bagian atas.

2.      Tehnik pembedahan

–          Anestesi umum (anastesi umum dilakukan hanya pada anak dan pada pasien dewasa yang gelisah serta tidak kooperatif)

–          Anak diposisikan terlentang/supinasi dengan kepala sedikit direndahkan dan leher dalam keadaan ekstensi

–          Mulut ditahan terbuka dengan suatu penutup dan lidah didorong keluar dari jalan.

–          Tonsil dipegang dengan cunam vulselum, satu bilah di pasang pada kutub atas dan yang lainnya di kutub bawah

–          Insisi dimulai dari kutub atas dan di teruskan kedepan dan kebelakang diantara pilar tonsil (insisi hanya dilakukan pada mukosa)

–           Tonsil akan terangkan dari tempatnya oleh traksi canum vulselum dengan cara yang dapat merenggangkan insisi mukosa anterior.

–          Melalui insisi tersebut, dimasukkan gunting bengkok Metzenbaum atau alat diseksi lainnya untuk memisahkan kapsul tonsil dari dasarnya (biasanya pilar anterior dipisahkan terlebih dahulu baru kemudian kutub atas).

–          Pada waktu kutub atas telah terlihat, cunam valselum di pakai kembali untuk memegang kutub atas. Pilar posterior dapat terlihat dengan mengangkat kutub atas dan bagian tersebut di bebaskan dari tonsil.

–           Jika diseksi telah dilakukan sampai hanya tinggal kutub bawah yang telah melekat, maka jerat dapat dengan mudah digunakan.

–          Cunam dimasukkan melalui gelang kawat dan tonsil dipegang kembali, kemudian jerat melewati bagian tonsil yang bebas, selanjutyadikencangkan untuk memotong kutub bawah rata dengan lidah.

–          Jika masih ada sisa tonsil pada plika triangularis, harus dipegang dengan canum dan dikeluarkan dengan jerat atau gunting.

–          Pengendalian perdarahan dengan menginsersi satu pak kasa ke dalam ruang post nasal yang harus diangkat setelah pembedahan.

–          Perdarahan yang berlanjut dapat ditangani dengan mengadakan ligasi pembuluh darah pada dasar tonsil.

3.      Perawatan pasca bedah

–          Membaringkan anak ke samping sampai bangun kemudian posisi mid fowler.

–          Memantau tanda-tanda perdarahan

1.      Menelan berulang

2.      Muntah darah segar

3.      Peningkatan denyut nadi pada saat tidur

–          Diet

1.      Memberikan cairan bila muntah telah reda

a.       Mendukung posisi anak untuk menelan potongan makanan yang besar (lebih nyaman dari ada kepingan kecil).

b.      Menghindarkan pemakaian sedotan pada anak (suction dapat menyebabkan perdarahan).

2.      Menawarkan makanan

a.       Es crem, crustard dingin, sup krim, dan jus

b.      Refined sereal dan telur setengah matang (biasanya lebih dapat dinikmati pada pagi hari setelah perdarahan).

c.       Hindari jus jeruk, minuman panas, makanan kasar, atau banyak bumbu selama 1 minggu.

3.      Mengatasi ketidaknyamanan pada tenggorokan

a.       Menggunakan ice color (kompres es), jika anak mau

b.      Memberikan anakgesik (hindari aspirin)

c.       Melaporkan segera tanda-tanda perdarahan

d.      Minum 2-3 liter/hari sampai bau mulut hilang.

4.      Mengajari anak dan keluarga mengenal hal berikut:

a.       Hindari latihan berlebihan, batuk, bersin, berdahak

b.      Menyisi hidung segera selama 1-2 minggu.

c.       Keadaan tinja mungkin seperti teh dalam beberapa hari karena darah yang tertelan.

Tenggorokan tidak nyaman dapat sedikit bertambah antara hari ke-4 dan ke-8 setelah operasi.