(tugas kuliah KMB I oleh : Deby Agustia W (08060127)

Kasus

An. X  usia 11 tahun.  Datang ke rumah sakit dengan keluhan bersin-bersin, hidung tersumbat dan hidung terasa gatal. Awalnya pasien mengira hal tersebut merupakan pilek biasa, tapi ternyata pileknya tidak sembuh-sembuh. Ibunya mengatakan bahwa anaknya  juga sering mengalami sulit tidur  karena sulit bernapas, dan tak jarang menganga ketika kesulitan bernapas. Dari pemeriksaan fisik ketika diinspeksi kulit tampak berwarna kehitaman dibawah kelopak mata bawah. Ketika dipalpasi An.X  merasa nyeri karena ada inflamasi. Setelah dilakukan pemeriksaan rongga hidung dengan spekulum didapatkan sekret hidung jernih, membran mukosa edema, basah dan kebiru-biruan (boggy and bluish). Dan dari hasil tes laboratorium (pemeriksaan sekret) terdapat sel eusinofil meningkat > 3 %.

Diagnosis

Berdasarkan data yang ada dapat ditegakkan diagnosis sebagai berikut:

1.      Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi atau adanya sekret yang mengental.

2.      Gangguan pola istirahat berhubungan dengan penyumbatan pada hidung.

3.      Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan tentang penyakit dan prosedur tindakan medis.

4.      Gangguan konsep diri berhubungan dengan rhinore

Intervensi

No.Dx INTERVENSI RASIONAL
1. -    Mengkaji penumpukan sekret yang ada-    Memberikan obat decongestan (pseudoefedrin 3×60 mg)

-    Mengobservasi tanda-tanda vital ( jika diperlukan)

-    Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya-    untuk mengurangi sumbatan pada hidung agar nafas efektif

-    Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi

2. -    Mengkaji kebutuhan tidur klien-    Menciptakan suasana yang nyaman

-    Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat

-    Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur-    Agar klien dapat tidur dengan nyenyak

-    Pernafasan dapat efektif

3. -    Mengkaji tingkat kecemasan klien-    Memberikan kenyamanan dan memperlihatkan rasa empati (datang dengan menyentuh tangan klien)

-    Memberikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang serta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti

-    Mengobservasi tanda-tanda vital

-    Bila perlu , kolaborasi dengan tim medis

-    Untuk menentukan tindakan selanjutnya-    Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan

-   Meningkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif

-    Mengetahui perkembangan klien secara dini

-    Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien

4. -    Memberikan obat antihistamin (cetirizine 10 mg 1×1)-    Memotivasi klien  untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan dan prognosis kesehatan

-    Memotivasi individu untuk mengekspresikan perasaannya, khususnya bagaimana individu merasakan, memikirkan, atau memandang dirinya

-    Untuk menghambat histamin-    memberikan minat dan perhatian, memberikan kesempatan untuk memperbaaki kesalahan konsep

-    dapat membantu meningkatkan tingkat kepercayaan diri, memperbaiki harga diri, mrnurunkan pikiran terus menerus terhadap perubahan dan meningkatkan perasaan terhadap pengendalian diri

KONSEP RHINITIS ALERGIKA

Definisi dari beberapa literatur :

-    Rinitis alergi adalah penyakit atau kelainan yang merupakan manifestasi klinis reaksi hipersensivitas tipe I (Gell & Coombs) dengan mukosa hidung sebagai organ sasaran.

-    Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan allergen ang sama serta dilepskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (Von Pirquet, 1986).

-    Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 Rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh lg E.

-    Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung ( Dorland, 2002 )

-    Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung (Dipiro, 2005 ).

-    Rinitis Alergika secara klinis didefinisikan sebagai gangguan fungsi hidung, terjadi setelah paparan alergen melalui peradangan mukosa hidung yang diperantarai IgE. Respons hidung terhadap stimuli dari luar diperankan pertama-tama oleh mukosa kemudian baru oleh bentuk anatomi tulang. Fungsi utama hidung adalah untuk saluran udara, penciuman, humidifikasi udara yang dihirup, melindungi saluran napas bawah dengan cara filtrasi partikel, transport oleh silia mukosa, mikrobisidal, antivirus, imunologik, dan resonan suara. Reaksi mukosa hidung akan menimbulkan gejala obstruksi aliran udara, sekresi, bersin, dan rasa gatal. Bila tidak terdapat deformitas tulang hidung maka sumbatan hidung disebabkan oleh pembengkakan mukosa dan sekret yang kental. Penelitian epidemiologik memperlihatkan bahwa penyakit alergi dapat diobservasi mulai dari waktu lahir sampai kematian. Sesuai dengan umur penderita,  dapat dibedakan penampakan dan lokalisasi jenis alergi (Indonesian children, 2009)

Ø  Rhinitis adalah istilah untuk peradangan mukosa. Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua:

1.      Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi.

2.      Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor.

Ø  Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu :

1.      Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya.

2.      Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam.

Ø  Berdasarkan sifat berlangsungnya, rhinitis alergi dibedakan atas :

1.      Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, pollinosis)

Hanya ada pada negara dengan 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik, yaitu tepung sari dan spora jamur.

2.      Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial)

Gejala keduanya hampir sama, hanya sifat berlangsungnya yang berbeda. Gejala rinitis alergi sepanjang tahun timbul terus-menerus atau intermitten. Meskipun lebih ringan dibandingkan rinitis musiman, tapi karena lebih persisten, komplikasinya lebih sering ditemukan. Dapat timbul pada semua golongan umur, terutama anak dan dewasa muda, namun berkurang dengan bertambahnya umur. Faktor herediter berperan, sedangkan jenis kelamin, golongan etnis, dan ras tidak berpengaruh (Mansjoer Arif, dkk, 2001).

Ø  Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :

1.      Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur.

2.      Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang.

3.      Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah.

4.      Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan

Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar :

1.      Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik

2.      Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral, system selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme system tersebut maka berlanjut ke respon tersier

3.      Respon Tersier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan

Manifestasi Klinis :

1.      Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari (umumnya bersin lebih dari 6 kali).

2.      Hidung tersumbat.

3.      Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus.

4.      Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok.

5.      Badan menjadi lemah dan tak bersemangat

DAFTAR PUSTAKA

Children, Indonesian. 2009. Rhinitis Alergika. Online http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/05/17/rinitis-alergika/. Diakses tanggal 31 Oktober 2010.

Harsono, Aroyanto & Anang Endaryanto. 2006. Rhinitis Alergika. Online http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-bfxu225.htm. Diakses tanggal 31 Oktober 2010.

Hendy. 2009. Askep Rhinitis. Online http://hendy-kumpulanaskep.blogspot.com/. Diakses tanggal 31 Oktober 2010.

Mansjoer, arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid.1 Edisi 5. jakarta : Media Aesculapius

Soepardi, Eviaty Arsyad & Nurbaiti Iskandar. 2001. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Edisi 5: Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala Leher. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.