(tugas Kuliah KMB I oleh: Silviana Utami Pratiwi (08060065)

Ny. S mengeluh anaknya yang bernama H umur 7 tahun sering bersin-bersin, mata gatal dan kemerahan, hidung gatal dan mengalami sumbatan. Karena hal itu mulut anaknya selalu terbuka agar bisa bernafas. Hal tersebut berlangsung sejak beberapa hari yang lalu setelah anaknya bermain sepakbola di lapangan dekat rumah. Setelah dilakukan pemeriksaan, didapati bayangan gelap di daerah kelopak mata bawah, lipatan tranversal pada hidung, edema konjungtiva, letak arcus palatum yang tinggi dan maloklusi gigi. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak mukosa edem berwarna pucat atau livid serta sekret yang banyak.

PENATALAKSANAAN KASUS

1. Mengusahakan untuk menghindari kontak dengan alergen penyebab (debu lapangan/debu rumah),

2. bila penghindaran tidak berhasil atau tidak dapat dilakukan dengan  baik maka diatasi dengan farmakoterapi yaitu  pemberian obat  Loratadin yang merupakan antihistamin non sedatif untuk mengatasi gejala akibat respon fase cepat.

3. Pemberian dekongestan oral yaitu agonis adrenergik-alfa yang dikombinasi dengan pseudoefedrin untuk mengatasi sumbatan hidung.

4. Pengobatan dengan imunoterapi tidak dianjurkan karena alergen (debu lapangan/debu rumah) dapat dihindari. Pengobatan ini hanya dilakukan untuk kasus yang berat dan telah berlangsung lama.

PENATALAKSANAAN RINITIS ALERGIKA

Penatalaksanaan rinitis alergika meliputi edukasi, penghindaran alergen, farmakoterapi dan imunoterapi. Intervensi tunggal mungkin tidak cukup dalam penatalaksanaan rinitis alergika, penghindaran alergen hendaknya merupakan bagian terpadu dari strategi penatalaksanaan, terutama bila alergen penyebab dapat diidentifikasi. Edukasi sebaiknya selalu diberikan berkenaan dengan penyakit yang kronis, yang berdasarkan kelainan atopi, pengobatan memerlukan waktu yang lama dan pendidikan penggunaan obat harus benar terutama jika harus menggunakan kortikosteroid hirupan atau semprotan. Imunoterapi sangat efektif bila penyebabnya adalah alergen hirupan. Farmakoterapi hendaknya mempertimbangkan keamanan obat, efektifitas, dan kemudahan pemberian. Farmakoterapi masih merupakan andalan utama sehubungan dengan kronisitas penyakit. Tabel 1 menunjukkan obat-obat yang biasanya dipakai baik tunggal maupun dalam kombinasi. Kombinasi yang sering dipakai adalah antihistamin H1 dengan dekongestan.

Pemilihan obat-obatan

Pemilihan obat-obatan dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal antara lain :

1.     Obat-obat yang tidak memiliki efek jangka panjang.

2.     Tidak menimbulkan takifilaksis.

3.     Beberapa studi menemukan efektifitas kortikosteroid intranasal. Meskipun demikian    pilihan terapi harus dipertimbangkan dengan kriteria yang lain.

4.     Kortikosteroid intramuskuler dan intranasal tidak dianjurkan sehubungan dengan adanya    efek samping sistemik.

Tabel 1. : Jenis obat dan efek terapetik.

Jenis obat Bersin Rinorea Buntu Gatal hidung Keluhan mata
Antihistamin H1

Oral

Intranasal

Intraokuler

______

++

++

0

_______

++

++

0

______

+

+

0

_____________

+++

++

0

______________

++

0

+++

Kortikosteroid intranasal +++ +++ +++ ++ ++
Kromolin

Intranasal

Intraokuler

______

+

0

_______

+

9

______

+

0

_____________

+

0

______________

0

++

Dekongestan

Intranasal

Oral

______

0

0

_______

0

0

______

+++

+

_____________

0

0

______________

0

0

Antikolinergik 0 ++ 0 0 0
Antilekotrien 9 + ++ 0 ++

Jenis obat yang sering digunakan :

  • Kromolin, obat semprot mengandung kromolin 5,2 mg/dosis diberikan 3-4 kali/hari
  • Setirizin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 2-5 tahun: 2.5 mg/dosis,1 kali/hari;  > 6 tahun : 5-10 mg/dosis,1 kali/hari.
  • Loratadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 2–5 tahun: 2.5 mg/dosis,1 kali/hari;  > 6 tahun : 10 mg/dosis, 1 kali/hari.
  • Feksofenadin, dosis pemberian sesuai usia anak adalah : 6-11 tahun: 30 mg/hari, 2 kali/hari;  > 12 tahun : 60 mg/hari, 2 kali/hari atau 180mg/hari, 4 kali/hari.
  • Azelastine, dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 5–11 tahun : 1 semprotan 2 kali/hari;  > 12 tahun : 2 semprotan, 2 kali/hari.
  • Pseudoephedrine, dosis pemberian sesuai usia anak adalah: 2-6 tahun : 15 mg/hari, 4 kali/hari; 6-12 tahun : 30mg/hari, 4 kali/hari;  > 12 tahun : 60 mg/hari 4 kali/hari. Ipratropium bromide 0.03% 2 semprotan, 2-3 kali/hari.
  • Kortikosteroid intranasal, Digunakan pada pasien yang memiliki gejala yang lebih persisten dan lebih parah. Efektif untuk semua gejala dengan inflamasi eosinofilik. Fluticasone intranasal diberikan dengan dosis pemberian untuk usia > 4 tahun : 1-2 semprotan/dosis, 1 kali/hari. Mometasone intranasal diberikan dengan dosis pemberian untuk usia 3-11 tahun : 1 semprotan/dosis, 1 kali/hari; usia > 11 tahun : 2 semprotan/dosis, 1 kali/hari. Budesonide intranasal diberikan dengan dosis pemberian untuk usia > 6 tahun : 1-2 semprotan/dosis, 1 kali/hari. Budesonide mempunyai bioavaibilitas yang rendah dan keamanannya lebih baik.
  • Leukotrien antagonis, Zafirlukast yang diberikan pada anak sebesar 20 mg/dosis 2 kali/24jam

Prinsipnya pengobatan Rinitis Alergika adalah sebagai berikut:

1.      Kontrol lingkungan

Mengusahakan untuk menghindari kontak dengan alergen penyebab (avoidance / elimination) sehingga reaksi alergi tidak terjadi. Cara ini yang pertama harus dilakukan sebelum memberi pengobatan lain walaupun pelaksanaanya sering kali tidak mudah.

2.      Farmakoterapi

Bila penghindaran tidak berhasil / tidak dapat dilakukan dengan baik, dapat diberi preparat obat:

a.       Antihistamin

Preparat golongan antagonis H-1 ini merupakan preparat yang paling sering dipakai. Dapat diberikan secara oral atau topikal dengan atau tanpa kombinasi dekongestan.

Preparat antihistamin klasik hanya efektif untuk mengatasi gejala akibat respon fase cepat tetapi beberapa preparat generasi baru dapat mengatasi juga gejala akibat respon fase lambat. Golongan H-1 antihistamin dapat dibagi menjadi H-1 antihistamin sedatif dan non sedatif. Sedangkan yang non sedatif dibagi lagi menjadi kardiotoksik dan aman. Yang termasuk kardiotoksik adalah golongan astemisol dan terfenadin. Sedangkan yang aman adalah loratadin, cetirisin, dan fexofenadin.

Terjadinya toksisitas adalah karena ada kelebihan dosis yang disebabkan fungsi hati yang melemah. Sudah diketahui kedua antihistamin tersebut dimetabolisme di hati melalui sitokrom P450. Kelebihan dosis juga dapat terjadi bila diberikan bersama antibiotika makrolid atau antifungi serta obat-obat lain yang dimetabolisme melalui sitokrom yang sama.

b.      Dekongestan topikal / oral

Preparat yang dipakai adalah agonis adrenergik-alfa yang terutama ditujukan untuk mengatasi sumbatan hidung. Diberikan peroral (biasanya kombinasi dengan antihistamin seperti pseudoefedrin-fenilpropanolamin). Pemberian pada anak-anak dan wanita hamil harus hati-hati dan merupakan kontraindikasi untuk orang tua dengan problem prostat, hipertensi, angina, diabetes mellitus dan glaukoma. Pemberian topikal harus hemat dan hanya untuk jangka pendek yaitu tidak lebih dari 10 hari (sebaiknya hanya 4 hari dalam seminggu) untuk menghindari terjadinya rinitis medikamentosa.

c.       Kortikosteroid topikal / oral

Preparat ini bekerja secara nonspesifik dan  supresif, diberikan bila gejala (terutama obstruksi hidung) akibat respon fase lambat tidak berhasil diatasi dengan preparat lain. Efeknya baru dirasakan setelah pemakaian beberapa hari sampai 1 minggu.

Pemakaian preparat topikal yang baru seperti golongan beklometason, flunisolid, budesonid, flutikason dan fluorokortin untuk jangka panjang cukup aman. Kortikosteroid oral hanya diberikan untuk kasus berat, diberikan secara intermiten atau tapering off 2 minggu sebelum pemberian topical agar efektif.

d.      Natrium kromolat (menstabilkan membrane mastosit)

Dalam bentuk inhalasi bermanfaat untuk pencegahan.

e.       Preparat antikolinergik

Salah satu preparat yang tersedia ialah ipratropium yang diberikan secara topikal, bermanfaat untuk mengatasi gejala rinore.

3.      Imunoterapi (desensitisasi/hiposensitisasi)

Cara ini tidak dianjurkan untuk alergen penyebab yang dapat dihindari. Hanya dilakukan untuk kasus yang berat dan telah berlangsung lama, terutama bila alergen penyebab debu rumah dan tungau debu rumah. Tujuannya adalah agar ambang kepekaan penderita terhadap alergen penyebab dinaikkan. Karena pengobatan ini mengandung bahaya terjadinya reaksi anafilaksis, sebaiknya dilakukan di rumah sakit/klinik yang memiliki fasilitas resusitasi jantung-paru yang siap pakai.

4.      Pembedahan

Berperan kecil untuk pengobatan rinitis alergika. Diperlukan bila telah terjadi komplikasi seperti sinusitis, hipertrofi konka atau polip nasi. Rujuk penderita untuk hal-hal tersebut di atas.

DAFTAR PUSTAKA

Sp.THT Soepardi, Arsyad, Efiaty dr,dkk. 2000. Penatalaksanaan penyakit dan kelainan telinga-hidung-tenggorok. Jakarta : Gaya Baru

http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-bfxu225.htm