السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jamaah sholat Iedul Adha yang dirahmati Allah SWT

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Pagi ini, kita ummat Islam kembali merasakan hadirnya karunia Allah yang sangat besar dan sangat membahagiakan, sejak tadi malam ummat kembali melantunkan takbir dan tahmid, sebagai bukti pengakuan mereka atas ke-Maha besaran Allah serta pengakuan atas moralitas yang harus mereka tunjukkan karena hadirnya kembali karunia Allah tersebut. Pagi ini ummat Islam bersama-sama melaksanakan sholat Iedul Adha, yang juga disebut Iedul Qurban, satu dari dua hari raya ummat Islam. Maha benar Allah dengan firmanNya dalam surah Al-Kautsar ayat 1-2 :

!$¯RÎ) š»oYø‹sÜôãr& trOöqs3ø9$# ÇÊÈ Èe@|Ásù y7În/tÏ9 öptùU$#ur ÇËÈ

“Sungguh kami telah berikan nikmat yang amat banyak kepadamu. Maka sholat dan berqurbanlah dengan ikhlas karena Rabbmu”.

Peristiwa seperti hadirnya kembali hari raya Iedul Qurban, mentautkan kembali dimensi sejarah, tanggung jawab sosial kekinian serta masa depan keummatan. Dalam konteks sejarah peristiwa Iedul Adha menyegarkan kembali kepada ummat kisah yang terjadi antara nabi Ibrahim dan Ismail AS, serta kisah yang disunnahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Nabi Ibrahim dan nabi Ismail AS  dengan hadirnya peristiwa berkorban itu, memberikan kepada ummat manusia suatu pelajaran penting, selain tentang komitmen ubudiyah kepada Allah secara total, tulus dan ikhlas bahkan sampai pada tingkat mengorbankan hal yang paling dicintai baik berupa diri maupun anak, suatu keikhlasan ubudiyah yang langsung dijawab oleh Allah baik dengan ridho maupun penerimaan, bahkan solusi alternatif, dari hal yang tadinya sangat menakutkan karena pengorbanan diri atau anak itu, menjadi hal yang sangat monumental dan bermanfaat ketika sang diri maupun anak dirubah menjadi hewan qurban.

Dalam konteks Rasulullah SAW peristiwa Iedul Qurban juga menandai tentang makna penting kesinambungan sejarah pengorbanan, reaktualisasi pengorbanan itu sendiri serta keberlanjutan dari hadirnya faktor sukses akibat dari dilanjutkannya tradisi berqurban secara ikhlas dan benar. Rasululah SAW bahkan mencontohkan sendiri, dan karenanya bukan hanya sekedar berwacana bagaimana beliau berqurban untuk diri dan keluarganya, sekaligus bahkan beliau menyembelih langsung hewan qurban itu. Rasulullah SAW mensunnahkan, hanya dengan Iman yang kongkritlah kesuksesan beribadah baik pada dimensi vertikal maupun horizontal dapat diwujudkan.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jamaah sholat Iedul Adha yang dirahmati Allah.

Dalam kehidupan sekarang, peristiwa hadirnya kembali Iedul Qurban juga membawa penyegaran-penyegaran penting tentang prinsip ketulusan, kepedulian yang perlu dilakukan secara nyata dan benar seperti yang pernah dicontohkan oleh nabi Ibrahim, Ismail dan Muhammad SAW itu. Karena memang sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran di dalam surat Al-hajj ayat 37 :

`s9 tA$uZtƒ ©!$# $ygãBqçté: Ÿwur $ydät!$tBϊ `Å3»s9ur ã&è!$uZtƒ 3“uqø)­G9$# öNä3ZÏB 4 y7Ï9ºx‹x. $ydt¤‚y™ ö/ä3s9 (#rçŽÉi9s3çGÏ9 ©!$# 4’n?tã $tB ö/ä31y‰yd 3 ΎÅe³o0ur šúüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÌÐÈ

“ Sekali-kali Allah tidak akan menerima daging maupun darah dari hewan qurban, tetapi yang diterima oleh Allah adalah sikap takwa yang  menyemangati berqurban itu, demikianlah Allah telah menciptakan hewan-hewan qurban itu agar kalian selalu dapat mengagungkan Allah SWT dan mensyukuri hidayahNya kepada kalian semua, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat ihsan”.

Dari dimensi ini maka merealisasikan berqurban adalah upaya untuk selalu memungkinkan hadirnya kembali sifat taqwa, yang menurut Al-Quran adalah kata kunci tentang keunggulan ummat manusia, dalam surat Al-Hujurat Allah menegaskan:

$pkš‰r’¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4

“ Wahai ummat manusia sesungguhnya allah telah menciptakan kalian dari laki-laki dan wanita dan Allah menjadikan anda berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenali, sesunguhnya yang paling utama di antara kalian di sisi Allah yang paling bertaqwa.ö

Berqurban karenanya menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diperdalam maknanya dan sekaligus memperbanyak realisasinya. Sebab dalam diri berqurban itu mengandung dua makna yang sangat relefan untuk kita jadikan sebagai sarana penguat komitmen untuk menghadirkan manusia yang utama dengan taqwa. Dalam diri berqurban selain ada makna pengorbanan dengan menyembelih hewan qurban atau pengorbanan dalam bentuk pengeluaran infaq dan shodaqoh untuk membeli hewan qurban dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT, yang selalu mengandung dimensi keikhlasan dan keihsanan, suatu capaian tangga yang tertinggi dalam keislaman melalui taqarrub kepada Allah SWT. Berqurban juga bermakna hadirnya taqarrub kepada sesama ummat manusia, baik karena dengan hadirnya hari raya Iedul Qurban ini tersegarkanlah kembali jalinan silaturahim dengan hadir dalam majelis-majelis sholat Iedul Adha, maupun dengan mudik pulang kampung seperti yang menjadi tradisi kaum muslim saudara-saudara kita di Timur Tengah, maupun dengan hadirnya kepedulian sosial yang kongkrit dalam bentuk daging hewan qurban baik yang dibagikan kepada masyarakat yang terdekat dengan para pequrban, maupun yang dikirimkan jauh ke daerah-daerah para dhuafa yang memerlukan santunan daging hewan qurban.

Kedua jenis taqarrub kepad Allah dan kepada sesama, yang merupakan realisasi penguatan hablun minallah dan hablun minannas itu, adalah suatu hal yang sangat dipentingkan untuk selalu hadir di tengah ummat Islam Indonesia khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Apalagi ketika kita masih berada pada awal tahun seperti sekarang ini. Sebab berkepanjangannya krisis yang menimpa ummat maupun bangsa apakah dalam bentuk krisis moral, sosial, ekonomi, politik seperti masih terjadinya terror bom yang terkutuk yang pasti tidak dilakukan oleh agama apapun, tetapi kehadirannya telah menghadirkan stigma dan apatisme. Maka kehadiran kembali pemaknaan Iedul Qurban sebagai sarana untuk taqarrub kepada Allah dan taqarrub kepada sesama manusia menjadi sangat penting dan mendesak untuk direaktualisasikan. Hanya dengan hadirnya kembali kesadaran bahwa terobosan di tengah kejumudan apatisme dan fitnah, dapat dilakukan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, Ismail dan Muhammad SAW itu. Terobosan yang tak terpikirkan itu ternyata bisa dilakukan, dan ketika dilakukan ternyata bisa suskes menghadirkan solusi, dan ternyata ia selalu bisa dilanjutkan dan disebar luaskan. Semangat ini sekali lagi jelaslah amat urghen untuk dihadirkan kembali agar bangsa Indonesia, yang mayoritas mutlak beragama Islam, agar dapat segera keluar dari krisis-krisisnya, dengan memaksimalkan potensi-potensi positif yang dimilikinya, sejarah sukses yang dimilikinya juga, juga beragam faktor keberhasilan yang selama ini bisa dimunculkan. Memang tidaklah benar bahwa suatu bangsa atau kumpulan umat hanyalah berisi kegagalan yang tidak memberikan harapan. Pasti selalu saja hadir terobosan-terobosan yang bisa dijadikan sebagai modal besar untuk bangkitnya ummat dan bangsa. Seperti yang kita lihat dan kita rasakan bagaimana kedamaian ummat di Aceh bisa dihadirkan dari sela-sela duka nestapa akibat dari Tsunami.

Prinsip taqarrub ke pada Allah dan taqarrub kepada manusia adalah prinsip yang sangat tepat untuk diaktualisasikan kembali, dengan taqarrub kapada Allah seperti dalam ikhlas menyembelih hewan qurban itu, maka derajat kemanusiaan kita dibiasakan untuk berada dalam dataran-dataran tinggi keikhlasan, yang tidak lagi cara pandang kehidupannya terbelenggu oleh cara pandang yang serba sempit dan serba penuh kepentingan dan serba materistik . Cara pandang-cara pandang yang biasanya membuat ummat manusia menjadi sangat mudah untuk terjebak pada konflik kepentingan, serta mudah pula melanggar batas-batas akhlaq dan moralitas, ia menjadi mudah mengikuti hawa nafsu dan sikap-sikap anarkis yang negatif. Sebaliknya semangat taqarrub ini membuat dirinya berfikir dan bersikap secara mendasar, untuk kepentingan yang lebih luas dan yang lebih umum. Ia akan terbiasa mempertahankan prinsip kebenaran dan berkerja keras untuk merealisasikannya dengan cara-cara yang makruf dan tidak dengan cara yang munkar.

Adapun taqarrub kapada sesama ummat manusia dalam konteks ini juga menjadi sangat penting untuk selalu disegarkan. Memahami tentang peran sejarah yang selalu bisa dilakukan, serta dampak positif yang bisa diberikan pada sesama sekalipun itu melalui pembagian daging qurban adalah suatu kesadaran yang sangat penting untuk selalu dimunculkan. Sebab di tengah kekhawatiran terjadinya keretakan ukhuwah antar ummat, maupun keretakan antara anak bangsa akibat dari adanya salah faham, fitnah, maupun egoisme kelompok, daerah maupun kepentingan, kesenjangan dan berbagai masalah sosial jelaslah amat diperlukan hadirnya terobosan segar yang bisa meminimalisirnya karena terjadinya faktor-faktor yang dikhawatirkan itu. Sebab dengan hadirnya keikhlasan dari para pequrban yang dengan santun membagikan hewan qurban kepada tetangga maupun masyarakat lain yang membutuhkannya, hal positif ini diharapkan dapat merekatkan kembali ukhuwah dan kepedulian antar sesama, bahkan lebih dari pada itu hal positif ini diharapkan dapat menyemangati anak ummat, dan  anak bangsa bahwa yang ada di tengah mereka bukanlah hanya individualisme dan matrealisme tetapi juga masih ada kepedulian antar sesama yang akan menyirami kegersangan-kegersangan cara berfikir, cara bertindak dan cara berhubungan di antara anak manusia. Itu adalah kunci penting hadirnya masyarakat yang bermartabat, masyarakat yang berukhuwah, yaitu masyarakat yang bertaqwa.

Jamaah sholat Iedul Adha yang dirahmati Allah

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sebentar lagi para jamaah haji kita akan pulang kembali ke tengah-tengah kita, dengan kemabruran haji mereka diharapkan mereka akan dapat menjaga keberlangsungan dari semangat berqurban yaitu bertaqarrub kepada Allah dan kepada sesama. Dan dengan interaksi antar sesama ummat dalam konteks itu maka jelas sekali dampak positif akan selalu bisa di munculkan yaitu beragama Islam yang membawa penyelamatan kemanusiaan, itulah Islam yang sebenarnya, Islam yang rahmatan lil’alamin.

Marilah kita menutup khutbah ini dengan bersama berdoa memohon kepada Allah, kiranya Allah berkenan mengabulkaNnya, Amiin ya Rabbal ‘alamiin.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَا لِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صَغِيْرًا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.

Ya Allah Ya Tuhan kami, ampunilah kami, ampunilah dosa-dosa orang tua kami, sayangi mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kami sejak kami masih kecil. Ya Allah, ampuni juga dosa kaum muslimin dan muslimat baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

Ya Allah ya Tuhan kami, telah banyak dosa dan kezaliman yang kami lakukan, ampunilah kami ya Allah, betapa hinanya kami manakala Engkau tidak mengampuni kami.

اَللَّهُمَّ اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَةِ وَاَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَةِ.

Ya Allah ya Tuhan kami, tunjukkan kepada kami yang benar itu benar dan berikan kekuatan kepada kami untuk bisa melaksanakannya. Ya Allah ya Tuhan kami, tunjukkan kepada kami yang bathil itu bathil, yang salah itu salah dan berikan kekuatan kepada kami untuk bisa menjauhinya.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلاً صَالِحًا مَقْبُوْلاً وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرً.

Ya Allah Ya Tuhan kami, jadikanlah jamaah haji kami yang kini telah menunaikannya di Tanah Suci, haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, amal shaleh yang diterima dan usaha yang tidak mengalami kerugian

اَللَّهُمَّ اَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِىاْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَاَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلأَخِرَةِ.

Ya Allah, baikkanlah kesudahan segala urusan kami, jauhkanlah dari kehampaan dan kehinaan di dunia dan siksa di akhirat.

اَللَّهُمَّ اَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ اْلاِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Ya Allah rukunkan dan damaikanlah semua pemimpin umat Islam, tolonglah Islam dan kaum muslimin, tolonglah kalimat-Mu untuk tetap tegak sampai hari kiamat.

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَوَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari kesulitan ekonomi, bencana, wabah, perbuatan keji dan munkar serta melanggar aturan, serangan dan ancaman yang bermacam-macam, keganasan dan segala ujian, baik yang nampak maupun yang tersembunyi dari nagara kami Indonesia khususnya dan negeri-negeri Islam pada umumnya. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِىاْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkanlah kami kehidupan di dunia yang baik dan akhirat yang baik serta hindarkan kami dari azab neraka.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته